Perbedaan Antara COBIT Versi 4.1 vs 5 vs 2019
COBIT
dikenal luas sebagai standard defacto untuk kerangka kerja tata kelola TI (IT Governance)
dan yang terkait dengannya. Di sisi lain standard/framework ini terus
berevolusi sejak pertama kali diluncurkan di 1996 hingga rilis terakhir yaitu
COBIT 5 yang diluncurkan pada Juni 2012 yang lalu. Pada setiap rilisnya,
kerangka kerja ini melakukan pergeseran-pergeseran beberapa paradigma.
Perbedaan antara COBIT versi 4.1 vs 5 vs 2019
1. COBIT 4.1
- COBIT versi 4.1 adalah model standar pengelolaan IT yang telah mendapatkan pengakuan secara luas, dikembangkan oleh Information Technology GovernanceInstitute (ITGI) dari Information System Audit and Control Association (ISACA).
- Menurut IT Governance Institute, 2007, menyatakan bahwa pada versi 4.1 ini diuraikan good practices, domain-domain dan proses kerangka kerja ( framework) TI yang ada.
- COBIT 4.1 menyebutkan adanya enabler–enabler. Akan tetapi, dalam COBIT 4.1 tidak menyebutnya secara gamblang dengan enabler.
- Prinsip dari COBIT 4.1 yaitu;
- Di dalam COBIT 4.1, Prinsip, kebijakan, dan kerangka kerja tersebar ke dalam beberapa proses-proses COBIT 4.1.
- Proses sendiri, menjadi hal yang sentral di dalam COBIT 4.1.
- COBIT 4.1 struktur organisasi tercermin dalam RACI chart yang mendefinisikan peran serta tanggung-jawab para pihak di dalam setiap proses.
- Perihal kultur, etika, serta perilaku, poin ini hanya terselip di beberapa proses COBIT 4.1.
- Di dalam COBIT 4.1 sendiri, informasi adalah salah satu sumber daya TI (IT resources).
- COBIT 4.1, infrastruktur dan aplikasi, keduanya disatukan dengan layanan, kemudian dijadikan salah satu sumber daya TI juga.
- COBIT 4.1, hanya disebutkan “orang” sebagai salah satu sumber daya. Meskipun, pada dasarnya mencakup juga keterampilan serta kompetensinya.
2. COBIT 5
- COBIT 5 adalah kerangka bisnis untuk tata kelola dan manajemen perusahaanIT (IT gevornance framework), dan juga kumpulan alat yang mendukung paramanager untuk menjembatani jarak (gap) antara kebutuhan yang dikendalikan(control requirments), masalah teknis (technical issues) dan resiko bisnis(business risk).
- COBIT 5 adalah evolusi dari framework sebelumnya yakni, COBIT 4.1 yang ditambah dengan Val IT 2.0 dan Risk IT
- COBIT 5 berbasis pada lima prinsip, yaitu:
- Memenuhi kebutuhan para pemangku kepentingan (stakeholder);
- Mencakup organisasi secara menyeluruh (end-to-end);
- Menerapkan satu framework tunggal yang terpadu;
- Memungkinkan pendekatan yang holistik;
- Memisahkan tata kelola dengan manajemen
- COBIT 5 menyebutkan secara spesifik ada 7 enabler dalam implementasinya. Berikut ini adalah ketujuh enabler COBIT 5 dan perbandingan untuk hal yang sama di COBIT 4.1 :
- Prinsip-prinsip, kebijakan dan kerangka kerja. Kalau di COBIT 4.1, poin-poin initersebar dalam beberapa proses-proses COBIT.
- Proses-prosesnya adalah sentral dari CobiT 4.1.
- Struktur organisasi dalam COBIT 4.1 tercermin dalam RACI chart yangmendefinisikan peran dan tanggung-jawab para pihak dalam setiap proses.
- Kultur, etika dan perilaku. Poin ini terselip di beberapa proses CobiT 4.1
- Informasi merupakan salah satu sumber daya TI (IT resources) dalam COBIT 4.1
- Layanan, Infrastruktur, dan Aplikasi. Dalam CobiT 4.1, infrastruktur dan aplikasi(disatukan dengan layanan) merupakan sumber daya TI juga
- Dalam CobiT 4.1, hanya disebutkan "orang" sebagai salah satu sumber daya (walau sebenarnya mencakup juga keterampilan dan kompetensinya).
3. COBIT 2019
- Terdapat dua sistem klasifikasi besar dimana prinsip COBIT 5 dikategorikan ke dalam governance system dengan dua prinsip tambahan baru. Klasifikasi baru, lainnya ialah kerangka kerja tata kelola. Ada pun prinsip-prinsipnya yakni;
- Sistem tata kelola (governance system)
- Memenuhi kebutuhan para pemangku kepentingan (stakeholder);
- Mencakup organisasi secara menyeluruh (end-to-end);
- Menerapkan satu framework tunggal yang terpadu;
- Memungkinkan pendekatan yang holistik;
- Memisahkan tata kelola dengan manajemen;
- Penerapan sistem tata kelola yang dinamis;
- Dapat disesuaikan dengan kebutuhan organisasi
- Prinsip untuk kerangka kerja tata kelola (governance framework)
- Berbasis model konseptual
- Bersifat terbuka dan fleksibel
- Selaras dengan standard-standard besar lainnya
Prinsip di atas menunjukkan bahwa rilis terbaru dari COBIT ini tidak ingin menjadi kerangka kerja kaku dan statis yang “memaksa” organisasi untuk mengikutinya apa adanya
- Pada COBIT 2019 ini, ketujuh enabler pada COBIT 5 disebut sebagai komponen tata kelola, yaitu:
- Proses
- Struktur Organisasi
- Prinsip-prinsip, kebijakan dan kerangka kerja
- Informasi
- Kultur, etik, dan kebiasaan
- SDM, keterampilan dan kompetensi
- Layanan, infrastruktur dan aplikasi.
Comments
Post a Comment